Blog sedang dalam perbaikan mohon maaf jika banyak kesalahan ------> Pemesanan Hubungi langsung Owner Kami
Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

KITAB THAHARAH Bab Air Tentang Kapan air menjadi najis...

  • 11 Mei 2012
  • Armila ( Dins Photography )
  • Label: , ,
  •  BULUGUL MARAM
    KITAB THAHARAH
    Bab Air Tentang Kapan air menjadi najis...
    Dari Abu Umamah al-Bahili ra. beliau berkata, Rosulullah SAW bersabda,
    "Innal ma'a la yunajisuhu sayiun illa ma gholaba ala riyhihi wa to'mihi wa launih"
    Artinya:
    "Sesungguhnya air itu tidak di najiskan oleh sesuatupun, kecuali najis yang mendominasi pada baunya, rasanya, dan warnanya."
    Diriwayatkan oleh ibnu Majah. di nyatakan lemah (dhaif) oleh Abu Hatim. Dalam riwayat al-Baihaqi,
    "Alma'u tohurun illa intaghoyaro riyhuhu aw to'muhu aw lawnuhu binajasatin tahdusufih"

    Artinya:
    "Air itu suci ( menyucikan ), Kecuali jika berubah baunya, atau rasanya atau warnanya di sebabkan najis yang terjatuh ke dalamnya."

    "Kosa Kata
    Abu Umammah : Beliau adalah Shudai bin ajlan, salah seorang sahabat, tinggal di mesir lalu berpindah ke Himsh dan wafat di sana 81H. Ada yang mengatakan 86H. Ada yang mengatakan dialah sahabat terakhir yang wafat di syam.
    Abu Hatim : Beliau adalah al-Imam Muhammad bin idris bin al-Mundzir ar-Razi al-Hanzali. lahir 195H dan wafat pada Sya'ban 277H dalam usia 82 tahun.
    Al-Baihaqi : Beliau adalah al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali, Syaikh Khurasan. Lahir 384H dan wafat 458H. dan Baihaq adalah sebuah kota dekat Naisabur.

    Pembahasan
    Para Ulama hadits telah bersepakat bahwa hadits ini dhaif. Penyebabnya adalah karena ia dari riwayat Risyidin bin Sa'ad, dia itu matruk al-hadits (haditsnya di tinggalkan). Hanya saja ucapannya,
    "Innal ma'a la yunajjisuhu sayi"
    Artinya:
    "Sesungguhnya air itu tidak di najiskan oleh sesuatu"
    Adalah shahih sebagaimana hadits sumur budha'ah. jadi titik lemah adalah khusus pada pengecualiannya yaitu,
    "illa intaghoyaro riyhuhhu aw to'muhu aw lawnuhu bi najasatin tah dusufih"
    Artinya:
    "Kecuali apabila baunya, rasanya atau warnanya berubah di sebabkan najis yang jatuh ke dalamnya"
    Bukan asal hadits, karena ia shahih seperti yang kamu ketahui. Walaupun para ulama telah bersepakat menyatakan lemahnya riwayat dengan pengecualian itu, tetapi mereka tetap bersepakat untuk mengambil hukum darinya, karena mereka bersepakat bahwa air yang sedikit atau yang banyak apabila tercampuri oleh sesuatu yang najis, lalu najis itu merubah rasa, atau warna atau bau air itu, maka ia najis. jadi dalil najisnya air yang bercampur dengan najis lalu berubah salah satu sifatnya adalah izma' bukan tambahan itu ( yaitu pengecualian ).
    Dari Abdulah bin Umar ra. beliau berkata, Rosulullah SAW bersabda,
    "idza kanal ma'u qulataini lam yahmilil Khobats. wa fiy lafdin ; lam yanjus.
    Artinya:
    "Apabila air itu mencapai dua qullah maka ia tidak mengandung kotoran." dalam lafazh lain,"tidak najis." diriwayatkan oleh empat, di sahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, dan Ibnu Hibban.

    "Kosa Kata
    Abdullah bin Umar bin al-Khatab: Beliau mmasuk islam sejak kecil di makkah. Perang pertama yang di ikutinya adalah Khandaq, wafat di makkah 73H.
    Qulatain = Dua qullah. Qullah adalah bejana orang arab seperti tong besar. qullah di sini adalah qullah Hajar karena dengannya Rosulullah SAW sering menakar sebagaimana dalam hadits mi'raj. jumlah dua qullah sekitar 500 rithl Irak.
    Al-Khobats = Artinya adalah (kotoran) najis.
    Al-hakim ; Beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin abdulah an-Naisaburi. terkenal dengan ibn al-Ba'i. Lahir 321H. Ad-Daruquthni, Abu Ya'la al Khalil dan al-Baihaqi meriwayatkan hadits darinya. Dia menyusun al-Mustadrak dan Tarikh Naisabur. wafat pada shafar 405H.
    Ibnu Hibban : Beliau adalah Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban al-Busti. Al- Hakim dan yang lainya mengambil hadits darinya. wafat pada syawal 354H.
    Pembahasan
    Hadits ini memberikan ketentuan air sedikit dan air yang banyak. yang pertama kurang dari dua qullah, yang ke dua adalah dua qullah atau lebih dari ( takaran ) qullah hajar. jika air kurang dari dua qullah lalu tercampur oleh najis, maka najis ini mempengaruhinya. Adapun jika air itu dua qullah lalu ia terkena najis, maka air itu tidak menjadi najis karena ia tidak mengandungnya atau tidak terpengaruh olehnya dan tidak membahayakannya.

    Kesimpulan
    1.Air yang sedikit terpengaruh oleh najis.
    2.Batasan sedikit yaitu di bawah dua ( takaran ) qullah.
    3.Air yang banyak tidak terpengaruh oleh najis.

    4.Batasan banyak yaitu dua qullah.

    Itulah hadits tentang KITAB THAHARAH  Bab Air Tentang Kapan air menjadi najis...
    •  Diambil dari kitab bulugul maram.

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Tolong bagi para sahabat harap baca dulu sebelum berkomentar :

    Blog ini tidak menggunakan verifikasi apapun, silahkan tinggalkan komentar yang sopan, tidak menjadi spamer.

    - jangan sertakan link pada komentar
    - jika ada link yang rusak / broken link di blog ini tolong beritahu saya pada komentar
    - jika artikel blog ini bermanfaat silahkan menyebarluaskan-nya dengan tekan button share
    ( google+ , facebook, digg, twitter dll ) salam hangat...
    Owner dsp : [Didin Supriatna (urang sunda+jawa)]

    Copyright (c) 2010 dins photography. Created by dsp