Entri Populer

Snippet

6 Mei 2011

PERASAAN ANEH DALAM CERITA YANG ANEH

Oleh: Dins S
Jakarta
Mei
2011

" Jauh.." dalam lamunan kembali mengingat pada masa yang telah silam semua ini pernah terjadi. Seperti waktu yangmulai berputar begitu cepat.. secepat kilat yang menyambar pohon - pohon kering di balik bukit,suara guntur yang menggaung seperti alunan nada seekor singga jantan yang perkasa,menggelegar..! bagai ribuan.. bahkan jutaan peluru yang di muntahkan dari masing - masing moncong senapan pada jaman perang dunia. Semua yang terdengar begitu menggetarkan hati yang takut,hati - hati yang takut itu meleleh seperti lilin - lilin yang terbakar api angkara - murka.
"Malam yang gelap gulita" bahkan tak dapat satupun penglihatan mata seorang manusia yang dapat menembus kegelapan itu melalui pandangan. "Bagaikan semut hitam yang ada di ruangan yang begitu gelap bertengger di batu hitam pula" tentu anda dapat membayangkan seperti apa gelapnya malam itu di sana pada waktu itu. Hanya dapat terdengar suara desah nafas seorang nenek tua yang sedang berjalan menyusuri gelapnya malam di antara rimbunnya pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Di malam yang begitu gelap, mungkin ia sudah terbiasa.." ataukah ia sudah tak lagi memerlukan matanya untuk melihat melainkan hanya bantuan mata hati dan sebuah tongkat kayunya yang selalu setia menemaninya kemanapun ia pergi. " Yah.. memang mungkin hanya tongkat itu yang dapat menemaninya di saat berjalan. Nenek itu terus dan terus berjalan menyusuri jalan yang begitu gelap,hingga ia berhenti mengakhiri perjalanannya di suatu tempat. Di situ bisa terlihat satu bangunan tua,dari kayu yang tua pula.." ya... ini mungkin yang di sebut dengan rumah tua yang terbuat dari kayu tua" bangunan yang tak begitu besar dan terlihat sederhana,, dari pekarangan terlihat pada malam itu satu cahaya yang terpancar dari sebuah lampu tempel minyak,yang tergantung di salah satu pinggir jendela. " Tak selang beberapa waktu lamanya setelah kedatangan nenek di sana,terdengar suara derik pintu yang terbuka,dan memang rupanya sengaja di buka, "derik - derik pintu seperti rengekan bocah kecil yang meminta di tambahkan uang jajan oleh ibunya" atau mungkin lebih mirip seperti suara anak kerbau yang memohon di berikan air susu oleh induknya.
Setelah pintu rumah terbuka, " Tampak seorang gadis cantik yang berambut ikal dengan postur tubuh yang agak tinggi semampai rupanya sedikit mirip dengan artis cantik papan atas dunia, "Merlyn monrue" atau "Madona" mungkin.. atau yah... apalah itu yang penting semuanya sempurna dari gadis ini, dengan mengenakan gaun malam berbatik bunga - bunga indah yang mana bila ada seorang insan pria yang melihatnya dengan tak di sengaja ia akan jatuh pingsan setelah melihatnya. "Lalu terdengar suara lembut yang keluar dari bibirnya yang manis, semanis gula-gula yang selalu di serbu ratusan bahkan ribuan semut-semut merah yang rakus"!
"Nenek..?" gadis itu memanggilnya akrab agak sedikit khawatir, "dari mana nenek malam-malam begini ? tambahnya sedikit cemas,terlihat tangannya yang lembut menghampiri serta memegang pergelangan tangan sang nenek,yang sudah keriput seperti kulit pohon mahoni yang kering karena sudah lama terkena panas  matahari.
"Nenek habis dari warung beli ini" jawabnya, yang bicarannya agak kerepotan.. bisa terdengar suaranya yang berbelok-belok seperti jalan di pegunungan, sambil ia menunjukan bungkusan dari daun pisang yang kering,"yang di dalamnya terdapat kapur sirih yang biasa ia gunakan untuk di kunyah bersama daun sirih dan pinang.
Setelah gadis itu menuntunnya hingga petengahan rumah, nenek tua itu pun duduk di kursi rotan, yang sudah tua pula" terlihat anyaman-anyaman rotan yang tadinya tersusun rapi pada alas kursi sudah rapuh sehingga banyak terlihat tali-tali rotan pengikat yang putus dan bergelayut seperti akar-akar pohon beringin yang sudah berumur seribu lima ratus tahun. tapi nenek itu sudah terbiasa dengan tempat duduknya,sehingga ia pun merasa nyaman duduk di kursi itu. "Mungkin bisa kita gambarkan saking nyamanya seperti seorang raja yang sedang menikmati duduknya di kursi kerajaan yang begitu indah hingga tak dapat terbayangkan lagi indahnya oleh akal manusia.
Gadis tadi pun keluar dari dapur membawa secangkir air putih,lalu gadis itu pun memberikan nenek tua minum dengan di bantu jari-jarinya yang lembut dan terampil. "Memang nenek tua itu neneknya dan sudah lama matanya tak lagi dapat melihat isi dunia yang begitu indah ini. Tapi ia sudah terbiasa dengan semua itu. Maka tak ada lagi yang perlu di sesalkan lagi baginya. Terdengar oleh sang gadis,,sang nenek telah memanggilnya dengan penuh arti,"Sumi" katanya pendek.. begitu ia memanggil cucunya yang tercinta, yang memang sejak kecil ia di berinama "Sumaryati" Oleh ayah dan ibunya.  "Coba kesini nak,Nenek mau bicara" katanya agak serius, seperti ketua PBB yang akan membuka rapat pleno di meja bundar. tapi penuh kasih sayang sambil mengusap rambutnya yang halus,lembut, seperti kain sutera lembut yang di kenakan oleh puteri raja jaman dahulu.
"Ya, ada apa nek? Sumi balik bertanya.
Begini.." Nenek agak sedikit ragu mengungkapkannya.
"Begini,, gimana nek? sumi penasaran.
..Kamu kan sudah menjadi gadis yang dewasa umur mu sudah dua puluh tujuh, kamu memang cucu nenek yang baik, nenek tahu kamu telah menunjukan kebaikanmu bertahun-tahun pada nenek.
"Ya Nek.. lalu memangnya kenapa,dengan semua itu nek? semua itu dapat aku lakukan karena seolah-olah nenek telah memberikan kasih sayang nenek pada ku sejak kecil.
"Yah,, memang.. tapi nenek punya satu impian yang belum terwujud hingga saat ini. "yaitu melihat kamu dan orang tuamu berkumpul seperti layaknya suatu keluarga."
Ibu dan Ayahmu kan sudah lama meninggalkan kampung ini,dan sekarang nenek pun tak tahu lagi di mana mereka sekarang!
"Ya, Nek.. sela Sumi, mengiyakan.
Nenek ingin melihat kamu bahagia,apakah kamu tak ada niat sedikitpun untuk mencari tahu keberadaan mereka? Tanya sang nenek mengakhiri pertanyaannya.
Mendengar pertanyaan sang nenek yang begitu rumit seperti jalan tikus yang berliku-liku yang sangat begitu aneh baginya, sumi hanya tertegun diam, dengan perasaan yang bingung mungkin jika ada seseorang yang melihat air mukanya saat itu mereka pikir sumi sedang memikirkan rumus matematika tersulit di dunia. "Sangat terlihat kerutan di keningnya yang menandakan begitu rumitnya rumus itu dan wajahnya berubah menjadi aneh, Sumi benar-benar di buatnya bingung oleh pertanyaan sang nenek tadi, sepertinya ia sedang menempuh suatu jalan yang aneh yang sama sekali ia belum pernah sekalipun melewatinya dan selanjutnya ia menemukan tujuh persimpangan jalan yang aneh sehingga ia bingung untuk memilih kemana jalannya harus ia teruskan. 
"Setelah lama tertegun diam sang nenek mengulangi pertanyaannya. "Bagaimana Nak, apa kamu tidak suka dengan apa yang nenek katakan?
"..Tidak,...tidak..." suka nek.. ya,, suka.. suka,.." jawabnya agak sedikit kebingungan.
"Terus.... kenapa kamu diam? nenek masih penasaran.
"yah... aku bingung nek harus jawab apa"
saat ini aku masih betah disini tingal bersama nenek dan saya ingin terus berbakti pada nenek yang telah sayang pada saya sejak kecil, di sisi lain saya pun ingin bertemu dengan orang tua saya yang telah lama saya rindukan karena bertahun-tahun saya sama sekali belum pernah melihatnya, dan entah di mana sekarang ia berada! Jika aku meninggalkan nenek sorang diri di sini itu tak mungkin bagi ku, siapa yang akan membantu nenek? dan aku telah berhutang banyak pada nenek.." sambil terisak-isak tak tahan lagi menahan air matanya yang telah lama mengantung di pinggiran kelopak matanya yang akhirnya air mata yang lambat-laun melewati bulu mata yang lentik itu satu persatu jatuh meluncur di pelukan sang nenek, air mata yang penuh arti, arti dari segala bahasa hati, yang berjuta-juta tahun.. berabad-abad juta tahun hingga seorang manusia tak dapat lagi berapa waktu lamanya dan semuanya tak ada seorang pun yang dapat mengartikannya. entah air mata macam apa yang jatuh melewati pipinya yang sintal ini, "Semua hanya Tuhan yang tahu segala arti.
Setelah pelukan hangat mereka perlahan terlepas, pelukan yang hanya ada antara hati dan hati, terdengar sumi yang pertama berkata.
"Sudahlah, Nek.." tak perlu nenek khawatir denganku, jangan bebankan lagi perasaan itu pada hati nenek, suatu saat nanti waktu yang Tuhan berikan pasti akan memberikan jawaban untuk segala hal yang tak pasti ini.. jawab sumi  penuh keyakinan dan cukup padat berisi, rupanya seperti karung beras yang beratnya mencapai sekitar 50 kg tersimpan dalam kata-katanya. sehingga siapapun orang yang mendengarnya harus rela menanggung beban sebesar dan seberat itu. sehingga dadanya terasa sempit, lubang-lubang hawa semakin menciut, rasanya seperti seorang kakek tua yang sudah bengek diam di depan cerobong asap kereta tua yan begitu mengepul-ngepul mirip pembakaran kilang minyak yang mana akan di buat sesak nafasnya orang itu.

BESAMBUNG..

perasaan apa yang ada pada hati sang nenek dan seorang gadis Cantik bernama "Sumi" itu tak ada yang dapat mentafsirkannya sedih atau apa...

Hanya Tuhanlah yang tahu perasaan mereka...

tokoh diatas hanya nama samaran bagi yang namanya sama saya tidak ada maksud apa-apa dengan semua cerita ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tolong bagi para sahabat harap baca dulu sebelum berkomentar :

Blog ini tidak menggunakan verifikasi apapun, silahkan tinggalkan komentar yang sopan, tidak menjadi spamer.

- jangan sertakan link pada komentar
- jika ada link yang rusak / broken link di blog ini tolong beritahu saya pada komentar
- jika artikel blog ini bermanfaat silahkan menyebarluaskan-nya dengan tekan button share
( google+ , facebook, digg, twitter dll ) salam hangat...
Owner dsp : [Didin Supriatna (urang sunda+jawa)]