Blog sedang dalam perbaikan mohon maaf jika banyak kesalahan ------> Pemesanan Hubungi langsung Owner Kami
Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

"SETETES HARAPAN"

  • 9 Mei 2011
  • Armila ( Dins Photography )
  • Label: ,
  • Oleh : Dins S
    Jakarta 9 mei 2011






       "Sinar dari bola mata yang indah terpancar dari seorang bocah kecil yang kurang lebih berumur sembilan tahun bernama "Latif". bola mata yang begitu banyak mengandung arti, begitu selaras dengan nama yang begitu indah yang telah di hadiahkan sang ayah kepadanya". Terkadang mata itu menunjukan kesedihan, dan terkadang pula memancarkan kebahagiaan.
        "Persis seperti nama yang di anugerahkan kepadanya "Latif" adalah benar-benar bocah yang sangat lembut, ia anak yang baik, ia tak pernah menangis, walaupun terkadang ia merasa sedih, juga dapat di katakan anak yang riang.
        Sesungguhnya bukan karakter bocah ini yang akan saya ceritakan di sini, tetapi anda sekalian akan mengetahui bagaimana alur cerita ini yang perlu sedikit waktu untuk di renungkan.
        "Berjalan kaki setiap pagi sejauh tiga kilo meter itu sudah menjadi kebiasaan rutin setiap harinya ketika ia akan berangkat bersekolah dari rumahnya.
    Memang rumahnya berjarak lumayan jauh dari sekolah tempat di mana ia menimba ilmu, kadang ia berjalan sendiri dan kadang pula ia bersama teman-temannya menuju sekolah. Langkah demi langkah yang akan meninggalkan kenangan bagi masa yang akan datang. Dengan tak pernah mengeluh ia terus melangkahkan kaki untuk melakukan perjalanan itu di setiap harinya dengan penuh keyakinan dalam hatinya, karena ia berkeinginan menjadi anak yang pintar di kemudian hari.
        "Pagi yang gelap", menemaninya berjalan saat itu, dengan mengenakan seragam baju putih, celana merah diatas lutut, kaus kaki putih setengah betis, sepatu hitam warior dan tak ketinggalan sebuah tas ransel ukuran besar yang ia gembol terlihat begitu berat untuk ukuran seorang bocah, mungkin ia telah membawa banyak buku-buku yang ada di perpustakaan atau segerbong peralatan sekolah lainnya. Dengan melewati jalan tanah merah setapak yang begitu kering dan tandus terlihat banyak tanah-tanah yang terbelah-belah seperti retakan terkena gempuran ribuan peluru yang mirip seperti di libya. Di samping jalan tampak penuh jenis-jenis pepohonan yang berukuran besar, sedang, hingga kecil sekalipun, rumput-rumput teki, ilalang yang separuhnya dari yang lain tampak menguning menandakan sudah lama tak turun hujan, pohon albasia yang kecil atau ukuran sedang yang dililiti bermacam-macam akar-akaran, lalu di hampirinya sungai dangkal yang kecil tapi tampak mengering dan menyisakan batu-batu kali yang agak licin karena lumut-lumut yang setengah mengering, tak jauh dari sungai yang dangkal itu terlihat satu bangunan rumah yang sudah tua dengan tiang pendapanya yang agak miring kehilangan keseimbangan, jendela yang tak lagi tertutup, kaso-kaso penyangga atap yang sudah lapuk, seng-seng atap yang begitu berantakan seperti habis terkena angin ribut. "Menandakan rumah ini sudah lama tak ada penghuninya". atu sudah di tinggalkan oleh pemiliknya.
    Sesekali jalannya melewati ladang-ladang jagung yang sudah mengering, burung-burung kecil pemakan biji-bijian tampak bergerombol seperti kelompok-kelompok yang sedang berdemo di depan gedung DPR, semua pemandangan yang begitu berantakan tak jelas lagi letak sumbu simetrinya, tak ada lagi nilai-nilai seni dapat di lihat dari sisi manapun, jelas tak ada keindahan yang dapat di nikmati oleh seorang insan di sana. "Setelah sekian lama berjalan melewati segala sesuatu yang begitu merusak pikiran. "Bagai Fatamorgana di pagi yang aneh" nampak dari kejauhan sebuah bangunan seperti rumah yang panjang berderet-deret beratapkan genteng-genteng kuno, cat dinding sepertiga bagian bawah berwarna merah hati yang sudah tua dan bagian atas dinding berwarna putih yang sudah begitu kotor dengan macam-macam noda, "Coretan-coretan dan sebagian cat-catnya yang sudah terkekupas kadang tampak dinding yang sudah retak dengan ukuran yang cukup besar hingga cahaya maupun pandangan mampu menembus hingga kedalam ruangan. Adapun dinding yang terlihat tinggal menyisakan bata-bata merah yang sudah rapuh, tiang-tiang pendapa yang sudah rapuh dan miring sehingga perlu bantuan tiang-tiang penunjang yang lain untuk menyeimbangkannya, jendela-jendela kayu yang dahulunya mengunakan penutup kaca kini tampak hanya di tutupi menggunakan triplek bekas alas bawah meja tulis yang sudah rusak berat, genteng atap yang sudah banyak yang pecah,retak ataupun semacamnya dan terdiri dari berbagai macam jenis genteng yang berbeda-beda. "Jelas bukan karena mode!" tetapi karena banyak genteng yang sudah di gantikan dengan genteng lain, mungkin karena merek yang sudah lama tak lagi di dapat di pasar. ini terlihat lebih mirip seperti sendal jepit yang lain warnanya yang satu dengan warna yang lainnya, lonceng dari potongan baja rel kereta api, "Entah rel kereta api jurusan mana yang di potong sehingga di gunakan untuk lonceng itu.
        "Nah.... ini dia sekolahku" yang tak akan pernah aku lupakan dan mempunyai daya tarik tersendiri,, pikirnya. setelah sejenak memandangi seluruh dari bagian bangunan sekolah itu.
        "Terlihat di sana pagi itu belum ada murid ataupun guru-guru yang sudah datang, hanya tampak seorang bapak tua pesuruh sekolah dengan kedua tangan yang begitu repot terlihat keluar dari salah satu ruangan yang biasanya di pakai gudang guna menyimpan peralatan sekolah yang sudah tak terpakai lagi. "Dengan dua tangan yang begitu repot.. yang satu menenteng ember yang isinya bermacam-macam tetek-bengek seperti paku, baut, ring, kunci-kunci, dari kunci pas, kunci ring, kunci inggris dan bermacam-macam kunci nada apapun sepertinya ada di dalamnya semuanya komplit. tangan yang satunya lagi mengais bambu panjang berukuran 180 cm dan di mulut terlihat gagang palu pemukul besi yang di gigit oleh giginya, juga kursi yang di dorong-dorong menggunakan kaki kanannya. "Sungguh menyedihkan... Bapak ini" pikirnya, Latif berbicara sendiri dalam hatinya. Memang anak baik berhati lembut dia ini, tak tega melihat orang lain kesusahan ia pun segera menghampirinya dan dia berkata padanya "Bapak tua itu" bahwa ia bersedia membantunya.
        "Ya..... ampun pak! repot bener..? sini Latif bantu". ujarnya sedikit bertanya.
        "Iya nak Latif, ini atap di depan kelas empat kayaknya ada yang mau ambruk! makanya perlu bapak sangga pakai bambu ini biar aman.."
        "O.... gitu ya pak? Latif sudah mulai mengerti dengan apa yang bapak tua lakukan, sambil menenteng ember yang penuh tetek-bengek dan sebatang bambu.
         Singkatnya waktu akhirnya setelah para murid dan guru sudah mulai masuk ke ruangannya masing-masing sesuai kepentingannya masing-masing karena sudah terdengar bunyi lonceng rel kereta yang di bunyikan sesuai waktunya jam masuk kelas, suara lonceng yang mendenting mirip suara berakhirnya ronde pada pertandingan tinju dalam kejuaraan dunia, akhirnya suara lonceng pun membawa suasana di sana menjadi sunyi semua murid yang serius belajar, dan juga Latif pun ikut belajar di kelas dua. Di tengah kekhusuan belajar para murid SD itu, "Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang begitu menggema, awan-awan mulai gelap, angin-angin bertiup kencang, cahaya petir gemerlap menyambar-nyambar, pohon-pohon meliuk-liuk tertiup angin. "Ini bukan suasana seperti saat nenek sihir akan merubah suatu kota seperti apa yang ada di serial film Harry Potter! tetapi ini menandakan bahwa Tuhan akan segera menurunkan hujannya di desa ini, mungkin karena memang sudah beberapa waktu lamanya tak turun hujan. Selang beberapa menit tetesan air rahmat yang turun dari langit pun jatuh gemercik menimpa genteng-genteng sekolah yang tua yang mula-mula posisi jatuhnya air tampak agak miring tertiup angin semakin lama semakin tegak lurus tampak meluncur cepat dari angkasa, karena tiupan angin dan air hujan begitu deras sehingga membasahai pepohonan, rumah-rumah, dan semuanya. Tak luput dari keadaan di dalam semua ruangan kelas yang tadi sangat sunyi kini terdengar begitu gaduh seperti suara para prajurit majapahit akan berperang di jaman kerajaan dulu, "Ternyata tak lain dari sejumlah murid dan guru-gurunya yang begitu di sibukan dengan tetesan-tetesan air yang jatuh dari genteng-genteng yang bocor ke dalam ruangan kelas, melewati celah-celah retakan genteng yang rusak. "Bocor di mana-mana bagai air mancur di tugu monas. yang akhirnya membuat kacau seluruh isi ruangan! basah kuyup...! pemandangan yang begitu mengkhawatirkan kembali mengulang perjalanan hidup sang bocah kecil, di tengah kesibukannya membantu guru-guru dan para murid yang lain membetulkan kerusakan, Bocah kecil ini.. " Latif yang lembut " berdoa dalam hatinya "Ya Tuhan.. berikanlah hamba dan teman-teman hamba rahmatmu untuk mencapai setetes harapan" agar kami semua kelak menjadi orang yang berguna bagi dunia. Do'a seorang bocah yang begitu tulus, tak ada secuilpun unsur politik di dalamnya untuk menipu Tuhan. Do'a yang timbul dari jiwa-jiwa yang lembut, do'a yang memberikan tempat terakhir untuk berteduh, do'a yang berasal dari kata-kata yang tak berpola, melainkan ucapan dari bibir dan hati yang lembut dari seorang bocah kecil yang melingkar lalu berputar-putar dan melesat jauh ke angkasa. Semua hanyalah Tuhan yang maha Mulia.
         "Tapi setelah melewati waktu sekitar tiga tahun lamanya sepertinya semua menjadi kenyataan desa-sesa yang dahulu tak bernilai seni dalam pandangan sedikit pun, sekolah-sekolah di sana yang sebelumnya keadaannya mengkhawatirkan. "Kini seperti desa yang di sulap menjadi desa yang indah, semua itu karena bantuan dana dari mana-mana untuk kepentingan umum, seperti jalan-jalan, sekolah-sekolah, tempat ibadah, dan sarana umum lainya dan untuk meningkatkan mutu pendidikan". begitu lah alasanya.
         Latif dan seluruh warga kampung pun merasa senang, "Kalau begini aku bisa mencapai impianku.." pikirnya, berkata-kata dalam hatinya. Sekarang desanya telah menjadi desa yang indah dan penuh nilai-nilai seni, jalan-jalan yang sering ia lewati setiap harinya tak lagi kacau-balau, taman-taman bunga biru berhamparan di mana-mana seperti lautan biru yang luas tak akan pernah ada akhir seperti cerita ini. "Hanya Tuhan yang tahu di mana akhirnya Setetes  Harapan seorang bocah."


    SEKIAN..

    Ket :  "Latif" nama samaran bocah yang lembut.



    Author : Didin Supriatna
    Anda Sedang Membaca Artikel : "SETETES HARAPAN"
    Jika Artikel ini bermanfaat untuk anda dan teman - teman, Anda boleh menulis ulang atau menyebarluaskannya dengan catatan selalu menyertakan link sumber :   http://dinsphotography.blogspot.com/2011/05/oleh-dins-s-jakarta-9-mei-2011-sinar.html
    Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Jejak Fotografer saya mohon maaf jika masih ada salah dalam penulisan artikel, karena saya masih banyak kekurangan tetapi haus akan ilmu dunia dan akhirat.

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Tolong bagi para sahabat harap baca dulu sebelum berkomentar :

    Blog ini tidak menggunakan verifikasi apapun, silahkan tinggalkan komentar yang sopan, tidak menjadi spamer.

    - jangan sertakan link pada komentar
    - jika ada link yang rusak / broken link di blog ini tolong beritahu saya pada komentar
    - jika artikel blog ini bermanfaat silahkan menyebarluaskan-nya dengan tekan button share
    ( google+ , facebook, digg, twitter dll ) salam hangat...
    Owner dsp : [Didin Supriatna (urang sunda+jawa)]

    Copyright (c) 2010 dins photography. Created by dsp